Senin, 28 Februari 2011

laporan kelapa sawit


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis) bukanlah tanaman asli Indonesia. Berdasarkan bukti-bukti fosil, sejarah dan linguistik, tanaman kelapa sawit dipercaya berasal dari pesisir tropis Afrika Barat. Tanaman kelapa sawit liar telah dimanfaatkan oleh penduduk  Afrika Barat sebagai minyak makan. Temuan arkeologi di Mesir menunjukkan penggunaannya sudah terjadi pada tahun 3000 SM. Tanaman kelapa sawit dikenali bangsa Eropa saat ekspedisi Portugis ke Afrika Barat pada abad ke-15 (Agustira, dkk, 2008).
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tumbuhan tropis yang diperkirakan berasal dari Nigeria (Afrika Barat) karena pertama kali ditemukan di hutan belantara negara tersebut. Kelapa sawit masuk pertama kali ke Indonesia pada tahun 1848 dibawa dari Marnitius dan Amsterdam oleh seorang warga Belanda. Bibit kelapa sawit yang berasal dari kedua tempat tersebut masing-masing berjumlah dua batang dan pada tahun itu juga ditanam di kebun Raya Bogor. Hingga saat ini dua dari empat pohon tersebut masih hidup dan diyakini sebagai nenek moyang kelapa sawit yang ada di Asia Tenggara. Sebagian keturunan kelapa sawit dari kebun Raya Bogor tersebut telah diproduksi ke Deli Serdang (Sumatera Utara) sehingga dinamakan varietas Deli Dura (Hadi, 2004).
Kelapa sawit merupakan salah satu primadona ekspor Indonesia yang pertanamannya berkembang sangat pesat. Pada tahun 1986, luas perkebunan kelapa sawit baru mencapai 607 ribu hektar dengan produksi sebesar 1,35 juta ton, tetapi pada tahun 1990 meningkat menjadi 1,15 juta hektar dengan produksi sebesar 2,43 juta ton.  Nilai ekspor komoditas ini juga meningkat dari 112,9 juta dolar pada tahun 1986 menjadi 178,2 juta dolar pada tahun 1990. Sekitar 25% dari luas areal pertanaman kelapa sawit saat ini dikelola oleh perkebunan negara, 25% merupakan areal perkebunan rakyat dan sisanya dikelola oleh perkebunan swasta. Penelitian kelapa sawit bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah minyak sawit melalui diversifikasi produk (Balitbang Pertanian, 1992).
Kelapa sawit memiliki banyak manfaat dalam penggunaannya. Selain minyak sawit yang dihasilkan oleh daging buah (Mesokarp) yang dikenal dengan CPO (Crude Palm Oil), kelapa sawit juga menghasilkan minyak inti sawit yang dihasilkan dari inti sawit yang dikenal dengan minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO). Dari keduanya dapat dibuat berbagai jenis produk lainnya. Pabrik pengolahannya disebut refineri dan ekstraksi. Dari sini akan keluar lagi beberapa jenis minyak, ada yang sudah siap pakai dan ada yang harus diproses untuk menjadi produk lainnya. Disamping minyak atau bahan solid lain, juga akan keluar beberapa padatan lainnya yang dapat langsung dipakai atau harus diproses lebih lanjut (Wahyono, dkk, 1995).
Pembibitan tanaman kelapa sawit yang diusahakan sendiri oleh para petani kelapa sawit ini sampai tumbuhnya perkecambahan, memang memerlukan kurun waktu lama. Selama kurun waktu itu memerlukan perhatian. Para petani kecil mungkin belum mengetahui cara yang baik sehingga banyak dari mereka lebih menyukai untuk membeli benih yang telah berkecambah. Di beberapa negara tertentu yang membudidayakan tanaman ini (termasuk Indonesia) pihak Dinas Pertanian dan Dinas Perkebunan telah menyediakan benih yang telah berkecambah (Kartasapoetra, 1988).

Tujuan Percobaan

Adapun tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam dan pemberian kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) (D x P) di Pre Nursery.

Hipotesis Percobaan

-        Diduga adanya pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan bibit             Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.).
-        Diduga adanya pengaruh TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) terhadap pertumbuhan bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Pre Nursery.
-        Diduga adanya pengaruh interaksi antara media tanam dan TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) terhadap pertumbuhan bibit Kelapa Sawit                   (Elaeis guineensis Jacq.) di Pre Nursery.
Kegunaan Percobaan

-       Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti Praktikal Tes di    Laboratorium Budidaya Tanaman Kelapa Sawit dan Karet Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
-       Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Menurut Mangoensoekarjo dan Semangun (2003), taksonomi kelapa sawit yang umum diterima sekarang adalah sebagai berikut:
Kingdom         : Plantae
Divisio             : Spermatophyta
Subdivisio       : Angiospermae
Kelas               : Monocotyledoneae
Ordo                : Palmales
Famili              : Palmaceae
Genus              : Elaeis
Spesies            : Elaeis guineensis Jacq.
Tanaman kelapa sawit berakar serabut. Perakarannya sangat kuat karena tumbuh kebawah dan kesamping membentuk akar primer, sekunder, tertier dan kuartener. Akar primer tunbuh kebawah didalam tanah sampai batas permukaan air tanah. Sedangkan akar sekunder, tertier dan kuartener tumbuh sejajar dengan permukaan air tanah bahkan akar tertier dan kuartener menuju ke lapisan atas atau ke tempat yang banyak mengandung zat hara. Disamping itu tumbuh pula akar nafas yang timbul di atas permukaan air tanah atau didalam tanah. Penyebaran akar terkonsentrasi pada tanah lapisan atas (Fauzi, dkk, 2003).
Besarnya batang berdiameter 20-75 cm, dan di perkebunan umumnya     45-60 cm, bahkan pangkal batang bisa lebih besar lagi pada tanaman tua. Biasanya batang adalah tunggal (tidak bercabang) kecuali yang abnormal. Tinggi batang bisa mencapai 20 m lebih, umumnya diperkebunan 15-18 m          (Sianturi, 1991).
Daun kelapa sawit bersirip genap, bertulang sejajar, panjangnya dapat mencapai 3-5 meter. Pada pangkal pelepah daun terdapat duri-duri kasar dan bulu-bulu halus sampai kasar. Panjang pelepah daun dapat lebih dari 9 meter. Helai anak daun yang terletak di tengah pelepah daun adalah yang paling panjang dan panjangnya dapat melebihi 1,20 meter. Jumlah anak daun dalam satu pelepah daun adalah 100-160 pasang (Setyamidjaja, 1991).
Susunan bunga terdiri dari karangan bunga yang terdiri dari bunga jantan (tepung sari) dan bunga betina (putik). Namun, ada juga tanaman kelapa sawit  yang hanya memproduksi bunga jantan. Umumnya bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam tandan yang sama. Bunga jantan selalu masak terlebih dahulu daripada bunga betina. Karena itu, penyerbukan sendiri antara bunga jantan dan bunga betina dalam satu tandan sangat jarang terjadi. Masa reseptif (masa putik dapat menerima tepung sari) adalah 3x24 jam. Setelah itu, putik akan berwarna hitam dan mengering (Sastrosayono, 2008).
Biji kelapa sawit mempunyai bagian: a). Endokarpium (kulit biji= tempurung), berwarna hitam dan keras, b). Endosperm (kernel=daging biji) berwarna putih dan dari bagian ini akan menghasilkan minyak inti sawit setelah melalui ekstraksi, c). Lembaga atau embrio (Tim Penulis PS, 1997).




Syarat Tumbuh

Iklim

Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah di sekitar Lintang Utara-Lintang Selatan 12 derajat pada ketinggian 0-600 m dari atas permukaan laut. Jumlah curah hujan yang baik adalah 2000-2500 mm per tahun, tidak memiliki defisit air hujan agak merata sepanjang tahun. Temperatur yang optimal 24-28 °C, terendah 18 °C dan tertinggi 32°C. Kelembaban 80%  dan penyinaran matahari 5-7 jam per hari. Kecepatan angin 5-6 km/jam sangat baik untuk membantu proses penyerbukan. Angin yang terlalu kencang akan menyebabkan tanaman baru goyang atau miring (Lubis, 1992).
Curah hujan optimum yang diperlukan tanaman kelapa sawit rata-rata 2000-2500 mm/tahun dengan distribusi merata sepanjang tahun tanpa bulan kering yang berkepanjangan. Kelembaban optimum bagi pertumbuhan kelapa sawit antara 80-90%. Faktor-faktor yang memepengaruhi kelembaban ini adalah suhu, sinar matahari, lama penyinaran, curah hujan, dan evapotranspirasi        (Tim Penulis PS, 1997).
Lama penyinaran rata-rata 5 jam dan naik menjadi 7 jam per hari untuk beberapa bulan tertentu akan berpengaruh baik terhadap kelapa sawit. Lama penyinaran ini terutama berpengaruh terhadap pertumbuhan dan tingkat asimilasi, pembentukan bunga (sex-ratio) dan produksi buah (Setyamidjaja, 1991).





Tanah

Kelapa sawit tumbuh pada beberapa jenis tanah seperti Podsolik, Latosol, Hidromorfik kelabu, Regosol, Andosol dan Alluvial. Sifat fisik taanah antara lain:
-       Solum yang dalam, lebih dari 80 cm. Solum yang tebal akan merupakan media yang baik bagi perkembangan akar sehingga efisiensi penyerapan hara tanaman akan lebih baik,
-       Tekstur lempung atau lempung berpasir dengan komposisi 20-60% pasir, 10-40% lempung dan 20-50% liat,
-       Struktur, perkembangannya kuat; konsistensi gembur sampai agak teguh dan permeabilitas sedang,
-       Gambut, kedalamannya 0-0,6 m,
-       Laterite, tidak dijumpai,
(PTPN IV, 1996).
Kemasaman tanah idealnya adalah pH 5,5 yang baik adalah pH 4,0-6,0, tetapi boleh juga digunakan pH 6,5-7. Tanah harus gembur dan drainase baik sehingga aerasi juga baik (Sianturi, 1991).
Sifat fisik tanah yang baik lebih dikehendaki tanaman kelapa sawit daripada sifat kimianya. Beberapa hal yang menentukan sifat fisik tanah adalah tekstur, struktur, konsistensi, kemiringan tanah, permeabilitas, ketebalan lapisan tanah dan kedalaman permukaan air tanah. Secara ideal tanaman kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, mempunyai solum yang dalam tanpa lapisan padas, teksturnya mengandung liat dan debu 25-30%, datar serta berdrainase baik (Tim Penulis PS, 1997).
Kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit)

Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) merupakan kompos 27 % dari berat tandan buah segar. TKKS ini sebagai limbah menjadi masalah dalam industri minyak sawit. Limbah ini akan terus bertambah berkaitan dengan peningkatan produksi minyak kelapa sawit atau meluasnya areal kelapa sawit. Teknologi produksi kompos dari tandan kosong sawit (TKS) merupakan satu teknologi pengolahan limbah yang sekaligus dapat mengatasi masalah limbah padat dan limbah cair di PKS. Penempatan teknologi ini memungkinkan PKS untuk menerapkan konsep zero waste yang berarti tidak ada lagi limbah padat dan limbah cair yang dibuang (http://wuryan.wordpress.com, 2008).
Limbah padat pabrik kelapa sawit dikelompokkan menjadi dua, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dan yang berasal dari basis pengolahan  limbah cair. Limbah padat yang berasal dari proses pengolahan berupa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Kandungan unsur hara kompos yang berasal dari limbah kelapa sawit sekitar 0,4 % N; 0,029 sampai 0,05 % P2O5; 0,15 sampai 0,2 % K2O. Setiap pengolahan 1 ton TBS akan menghasilkan limbah pada berupa tandan kosong sawit (TKS) sebanyak 200 kg (http://ditjenbun.deptan.go.id, 2010).
Selain minyaknya,  ampas  tandan  kelapa  sawit merupakan  sumber  pupuk  kalium  dan  berpotensi untuk  diproses  menjadi  pupuk  organik  melalui  fermentasi  (pengomposan)  aerob  dengan penambahan mikroba alami yang akan memperkaya pupuk yang dihasilkan. Tandan kosong kelapa sawit  (TKKS)  mencapai  23  %  dari  jumlah  pemanfaatan  limbah  kelapa  sawit  tersebut  sebagai alternatif  pupuk  organik  sehingga memberikan manfaat  lain  dari  sisi  ekonomi.  Bagi  perkebunan kelapa  sawit,  dapat menghemat  penggunaan  pupuk  sintetis  sampai  dengan  50 %. Ada  beberapa alternatif pemanfaatan TKKS yang dapat dilakukan, yaitu sebagai pupuk kompos, merupakan bahan organik  yang  telah  mengalami  proses  fermentasi  atau  dekomposisi  yang  dilakukan  oleh mikroorganisme. Kompos TKKS memiliki beberapa sifat yang menguntungkan antara lain :
-       Memperbaiki struktur tanah berlempung menjadi ringan.
-       Membantu kelarutan unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.
-       Bersifat homogen dan mengurangi risiko sebagai pembawa hama tanaman.
-       Merupakan pupuk yang tidak mudah tercuci oleh air yang meresap dalam tanah.
-       Dapat diaplikasikan pada sembarang musim. 
Selain  sebagai  pupuk  kompos  TKKS  juga  sebagai  pupuk  kalium  karena  abu  tandan  tersebut memiliki  kandungan  30  -  40  %  K2O,  7  %  P2O5,  9  %  CaO,  dan  3  %  MgO (http://www.warintek.com, 2010).
Proses pengomposan TKS dimulai dengan pencacahan TKS dengan mesin pencacah. TKS yang telah dicacah ditumpuk di atas lantai semen pada udara terbuka atau dibawah atap. Tumpukan dibalik 3-5 kali seminggu dengan mesin pembalik BAKHUS dan disiram dengan limbah cair PKS. Pada akhir pengomposan yang berlangsung selama 6-8 minggu, kompos diayak dan dikemas (http://wuryan.wordpress.com, 2008).

Media Tanam

Media tanam yang digunakan seharusnya adalah tanah yang berkualitas baik, misalnya tanah bagian atas (top soil) pada ketebalan 10-20 cm dan berasal dari areal pembibitan dan sekitarnya. Tanah yang digunakan harus memiliki struktur yang baik, tekstur remah dan gembur, tidak kedap air serta bebas kontaminasi (hama dan penyakit khususnya cendawan Ganoderma, pelarut, residu, bahan kimia). Bila tanah yang akan digunakan kurang gembur dapat dicampur pasir dengan perbandingan pasir : tanah = 3 : 1 (kadar pasir tidak melebihi 60%). Sebelum dimasukkan ke dalam polybag, campuran tanah dan pasir diayak dengan ayakan kasar berdiameter 1,5-2 cm. preoses pengayakan bertujuan untuk membebaskan media tanam dari sisa-sisa kayu, batuan kecil dan material lainnya (PPKS, 2008).
Sifat kimia tanah berpengaruh saat menentukan dosis pemupukan dan kelas kesuburan tanah. Kekurangan unsur hara dapat diatasi dengan pemupukan. Dosis pemupukan harus sesuai dengan kebutuhan berdasarkan umur tanaman dan kondisi tanahnya, misalnya tanah asam perlu ditambahkan kapur (Sunarko, 2009).
Pohon kelapa sawit harus dikembangkan dengan biji sejak tidak adanya metode uniseksual yang cocok. Di Malaysia tempat benih berminyak dibuat dari biji-biji sebelum kelapa sawit berkecambah di dalam kaleng atau tanah berpasir 2,5 cm dan berjarak 8 cm di dalam pasir dengan beberapa pori sekitarnya (Hartmann, 1998).
Tanamlah benih dalam kantong plastik yang berukuran 20x10 cm yang telah berisi tanah (top soil) yang subur dan gembur, yakinkan bahwa tunas ada di bagian atas, sedang yang ada akarnya berada di bagian bawah (dalam tanah), berikan pemulsaan dan siramlah dua kali sehari ketika udara kering. Kantong-kantong plastik yang telah berisi benih itu ditempatkan berkumpul dalam keadaan berdekatan untuk memudahkan pemeliharaan dan pengawasannya  (Kartasapoetra, 1988).

Pembibitan di Pre Nursery

Pada dasarnya dikenal dua sistem pembibitan yaitu sistem pembibitan ganda (double stage system) dan  sistem  pembibitan  tunggal  (single  stage  system).  Pada  penerapan  sistem  tahap  ganda, penanaman bibit dilakukan sebanyak dua kali. Tahap pertama disebut pembibitan pendahuluan, yaitu  kecambah  ditanam  dengan menggunakan  plastik  polibag  kecil  sampai  bibit  berumur  3 bulan, kemudian  tahap kedua bibit  tersebut ditanam ke pembibitan utama yang menggunakan plastik polibag besar selama 9 bulan. Pada  sistem pembibitan  tahap  tunggal, bibit  langsung di tanam di dalam plastik polibag besar hingga berumur 12 bulan  tanpa harus ditanam di dalam plastik polibag kecil (http://www.warintek.com, 2010).
Pre nursery diawali dengan menanam kecambah kelapa sawit ke dalam tanah pada kantong plastik (polibag) kecil hingga berumur tiga bulan. Penanaman (persemaian) kecambah sebaiknya dilakukan segera setelah pesanan kecambah datang. Bahkan, penanaman pada pre nursery dilakukan paling lama 1 hari setelah kedatangan kecambah (Hadi, 2004).
Pembibitan awal (Pre nursery) mempunyai ciri – ciri adalah penggunaan kantong plastik berukuran kecil, sehingga jumlah bibit per ha areal pembibitan menjadi banyak. Tempat pembibitan adalah kantong plastik karena harganya lebih murah, dan mudah disimpan  (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2003).
Benih tanaman ini setelah 3 atau 4 bulan atau setelah masing-masing memiliki 5 daun, hendaknya dipindahkan pada kantong plastik baru berukuran sekitar 40 cm x 50 cm, sebagian daripadanya diisi lapisan tanah permukaan yang subur dan gembur. Robek kantong plastik yang lama kemudian pindahkan benih tanaman dengan hati-hati, usahakan agar bagian tanah yang menggumpal di sekitar akar-akar tanaman yang masih halus itu tidak pecah (berantakan). Atur kantong-kantong plastik yang berisi tanaman tersebut (Kartasapoetra, 1988).
Ukuran polybag bergantung pada lamanya bibit di pembibitan. Pada tahap awal, polybag yang digunakan berwarna putih atau hitam dengan ukuran panjang 22 cm, lebar 15 cm dan tebal 0,1 mm. Di setiap polybag dibuat lubang diameter 3 mm sebanyak 12-20 buah (tiga baris, jarak 5 cm). Pada tahap pembibitan utama digunakan polybag berwarna hitam dengan ukuran panjang 50 cm, lebar 37-40 dan tebal 0,2 mm. Pada setiap polybag dibuat lubang diameter 5 mm sebanyak 12 buah pada ketinggian 10 cm dan dibawah polybag (PPKS, 2008).








BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Percobaan

Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Kelapa Sawit dan Karet Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ±25 m di atas permukaan laut mulai bulan Februari sampai Mei 2010.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah bibit kelapa sawit yang berkecambah sebagai objek percobaan, top dan soil pasir dengan perbandingan 2 :1 sebagai campuran media tanam, sub soil dan pupuk kandang dengan perbandingan 3 : 1 sebagai campuran media tanam, air sebagai media penyiraman, label nama sebagai penanda polybag dan bahan-bahan lain yang mendukung percobaan ini.
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul untuk mencampurkan media tanam, polybag sebagai tempat media tanam, gembor sebagai wadah untuk menyiram tanaman, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, ayakan untuk mengayak pasir, jangka sorong untuk mengukur diameter batang, alat tulis untuk mencatat data, dan top soil serta alat-alat lain yang mendukung percobaan ini.

 


Metode Percobaan


Metode percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor perlakuan, yaitu :
Faktor 1     : Media tanam (M) dengan 2 taraf
                        M1 = Top Soil + Pasir (2 : 1)
                        M2 =  Sub soil + Pupuk Kandang Sapi (3 : 1)
Faktor 2     : Kompos TKKS (T) dengan 3 taraf
                        T0 = 10 gram
                        T1 = 20 gram
                        T2 = 30 gram
Maka didapat 6 kombinasi perlakuan, yaitu :
                  M1T0                      M2T0
                  M1T1                      M2T1
                  M1T2                      M2T2
Jumlah ulangan                                  : 3
Jumlah plot per ulangan                      : 6
Jumlah bibit per polibeg                      : 1
Jumlah bibit per plot                           : 2
Jumlah kecambah seluruhnya              : 36 bibit





PELAKSANAAN PERCOBAAN

Persiapan Media Tanam

Media tanam yang digunakan sesuai dengan masing-masing perlakuan, yaitu campuran topsoil dan pasir dengan perbandingan 2 : 1 (M), dan campuran subsoil dan pupuk kandang sapi dengan perbandingan 3 : 1 (M2).

Aplikasi Kompos TKKS

Masing-masing perlakuan media tanam dicampur dengan kompos TKKS sesuai dengan perlakuan masing-masing yaitu 10 gram (T0), 20 gram (T1) dan 30 gram (T­2) kemudian dimasukkan ke dalam polybag.

Penanaman

Penanaman dilakukan dalam polybag. Bibit kelapa sawit ditanam sedalam 1 cm dalam polybag.

Pemeliharaan Tanaman

Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari pada sore hari dan selanjutnya dikurangi bila keadaan tanah masih basah dan lembab.




Pengamatan Parameter

Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman yang berkecambah sudah berumur 3 bulan, dihitung mulai dari permukaan tanah sampai bagian tertinggi dari tanaman dengan interval 1 minggu.

Jumlah Daun (helai)
            Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna. Perhitungan jumlah daun dilakukan dengan interval 1 minggu.

Diameter Batang (mm)
            Diameter batang dihitung dengan menggunakan jangka sorong setiap 1 minggu sekali diukur dari dua sisi batang (arah utara dan selatan), diukur dari pangkal tanaman tersebut atau ± 1 cm diatas permukaan tanah.










HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tinggi Tanaman (cm)
            Tinggi tanaman kelapa sawit dapat dilihat dari lampiran 1-16.
Tabel 1. Rataan Tinggi Tanaman 9 MST

T0
T1
T2
rataan
M1
23.07
25.73
29.33
26.04
M2
24.07
18.84
22.27
21.72
rataan
23.57
22.29
25.80
23.88

Dari tabel 1 diketahui bahwa tinggi tanaman tertinggi adalah 29,33 cm pada perlakuan M1T2 dan tinggi tanaman terendah adalah 18,84 cm pada perlakuan M2T1.
Gambar 1. Grafik Tinggi Tanaman 9 MST





Jumlah Daun (helai)
            Jumlah daun tanaman kelapa sawit dapat dilihat dari lampiran 17-32.

Tabel 2. Rataan Jumlah Daun 9 MST

T0
T1
T2
rataan
M1
2.67
3.00
3.00
2.89
M2
2.67
2.83
2.83
2.78
rataan
2.67
2.92
2.92
2.83

Dari tabel 2 diketahui bahwa jumlah daun tertinggi adalah 3,00 pada perlakuan M1T1 dan M1T2 sedangkan jumlah daun terendah adalah 2,67 pada perlakuan M1T0 dan M2T0.
Gambar 2. Grafik Jumlah Daun 9 MST

           


Diameter Batang (mm)
            Diameter batang tanaman kelapa sawit dapat dilihat dari lampiran 33-47.
Tabel 3. Rataan Diameter Batang 9 MST

T0
T1
T2
rataan
M1
4.40
5.48
5.75
5.21
M2
5.22
5.44
5.27
5.31
rataan
4.81
5.46
5.51
5.26

Dari tabel 3 diketahui bahwa diameter batang tertinggi adalah 5,75 mm pada perlakuan M1T2 dan diameter batang terendah adalah 4,40 mm pada perlakuan M1T0.
Gambar 3. Grafik Diameter Batang 9 MST








































Pembahasan
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada parameter rataan tinggi tanaman, tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan kombinasi antara media tanam dan Kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) terdapat pada perlakuan M2T0 yaitu 24,07 cm dan nilai rataan terendah terdapat pada perlakuan M2T1 yaitu 18,84 cm. Hal ini terjadi karena pada perlakuan tersebut komposisi media tanam dan Kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) cukup baik, sehingga dapat membantu tersedianya unsur hara yang berguna untuk pertumbuhan bibit kelapa sawit. Hal ini sesuai dengan literatur http://ditjenbun.deptan.go.id (2010) bahwa kandungan unsur hara kompos yang berasal dari limbah kelapa sawit sekitar 0,4 % N; 0,029 sampai 0,05 % P2O5; 0,15 sampai 0,2 % K2O. Setiap pengolahan 1 ton TBS akan menghasilkan limbah pada berupa tandan kosong sawit (TKS) sebanyak 200 kg.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada parameter rataan jumlah daun pada perlakuan kombinasi antar media tanam dan Kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) yang tertinggi terdapat pada perlakuan M1T1 yaitu 3,00 helai dan M1T2 yaitu 3,00 helai dan terendah terdapat pada perlakuan M1T0 yaitu 2,67 helai dan M2T0 yaitu 2,67 helai. Hal ini disebabkan karena pada perlakuan tersebut, penggunaan Kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) tepat pada media tanam yang cocok dan karena TKKS mempunyai kadar C/N yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan http://www.warintek.com (2010) tandan kosong kelapa sawit mempunyai kadar C/N yang tinggi yaitu 45 – 55. Hal ini dapat menurunkan ketersediaan N pada tanah karena N terimobilisasi dalam proses penambahan bahan organik oleh mikroba tanah.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada parameter rataan diameter batang tanaman, pada perlakuan kombinasi antara media tanam dan kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) nilai rataan tertinggi terdapat pada perlakuan M1T2 yaitu 5,75 mm dan terendah tedapat pada perlakuan M1T0 yaitu 4,40 mm. Hal ini berarti bahwa pada perlakuan ini media tanam yang digunakan dan banyaknya komposisi TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit. Hal ini sesuai dengan pernyataan http://www.warintek.com (2010) yang menyatakan bahwa hasil penelitian aplikasi kompos pada pembibitan kelapa sawit menunjukan bahwa penambahan kompos TKKS pada pembibitan utama dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit. Diameter batang bibit meningkat 18 – 33% terhadap perlakuan tanpa aplikasi kompos.




KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1.      Tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan M2T0 yaitu 24,07 cm dan terendah terdapat pada perlakuan M2T1 yaitu 18,84 cm.
2.      Jumlah daun tertinggi terdapat pada perlakuan M1T1 yaitu 3,00 helai dan M1T2 yaitu 3,00 helai dan terendah terdapat pada perlakuan M1T0 yaitu 2,67 helai dan M2T0 yaitu 2,67 helai.
3.      Diameter batang tanaman terdapat pada perlakuan M1T2 yaitu 5,75 mm dan terendah terdapat pada perlakuan M1T0 yaitu 4,40 mm.

Saran

            Diharapkan pada praktikum selanjutnya, lebih teliti dalam pengambilan data tanaman, terutama data diameter batang.









DAFTAR PUSTAKA

Agustira, M. A., A. Kurniawan, Dja’far, D. Siahaan, L. Buana, dan T. Wahyono, 2008. Tinjauan Ekonomi Industri Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.

Balitbang Pertanian, 1992. Lima Tahun Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian, Republik Indonesia.

Fauzi, Y., Y. E. Widyastuti., I. Satyawibawa dan R. Hartono. 2003. Kelapa Sawit. Penebar Swadaya, Jakarta.

Hadi, M. M., 2004. Teknik Berkebun Kelapa Sawit. Adicita Karya Nusa, Yogyakarta.

Hartman, H., T., W. J. Klacker, A. M. Kofrarek. 1998. Plant Science. Prentice Hall Inc., New Jersey.

Http://www.ditjenbun.deptan.go.id., 2010. Limbah Kelapa sawit. Diakses tanggal 10 April 2010.

Http://www.warintek.com., 2010. Komoditi Kelapa Sawit. Diakses tanggal 10 April 2010.

Http://www.wuryan.wordpress.com., 2010. Kelapa Sawit. Diakses tanggal 10 April 2010.

Kartasapoetra, A. G., 1988. Hama Tanaman Pangan dan Perkebunan. Bina Aksara, Jakarta.

Lubis, A. U., 1992. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat Bandar Kuala, Pematang Siantar.

Mangoensoekarjo, S. dan H. Semangun, 2003. Manajemen Agribisnis Kelapa Sawit. UGM Press, Yogyakarta.

PPKS, 2008. Teknologi Kultur teknis dan Pengolahan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.

PTPN IV., 1996. Vademecum Kelapa Sawit. PT Perkebunan Nusantara IV Bah Jambi, Pematang Siantar.

Sastrosayono, S., 2008. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka.         Jakarta.

Setyamidjaja, D., 1991. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius, Yogyakarta.
Sianturi, H. S. D., 1991. Budidaya Tanaman Kelapa Sawit. USU Press, Medan.

Sunarko, 2009. Petunjuk Budidaya Dan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Tim Penulis PS, 1997. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya, Jakarta.

Wahyono, T., R. Nurkhoiry, dan M. A. Agustina, 1995. Profil Kelapa Sawit di Indonesia. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar